Kumpulan Pembelajaran Teknik Sipil

Berbuatlah yang bermanfaat untuk orang lain

Nasib Pendidikan Indonesia

Posted by handoko10 pada 4 Desember 2008

[lang_id]

Saat ini pendidikan di indonesia bukannya semakin maju malah semakin kacau menejemen yang ditanganinya, sekolah hanya mengejar popularitas saja dengan bergelar standar tertentu, tapi melupakan jati dirinya, dengan eksistensi pendidikan seutuhnya, bukannya mutu yang dikejar akan tetapi popularitas yang di tonjolkan. Banyak sekali sekolah-sekolah yang menyandang gelar standar tertentu akan tetapi tidak memahami eksistensinya itu hanya supaya kelihatam wah, bila dilihat didalam sekolahnya sendiri manajemennya masih kacau balau, semua yang berkecimpung yang ada di dalamnuya tidak tahu akan standar itu sendiri, karena biasa Kepala sekolah  yang bernafsu supaya sekolah yang di pimpinnya bisa dikenal karena punya standar tertentu.

Sekolah yang mempunyai standar tertentu, kurang memahami eksistensi standar tersebut. Yang lebih parah lagi tidak memahami arti pendidikan sebenarnya. Banyak sekali anak-anak yang terlupakan, terutama anak-anak yang kurang dalam NEM, mereka tak akan bisa masuk dalam sekolah negeri yang lumayan bagus, yang diterima hanya anak-anak yang punya nem tinggi, bila ditinjau secara mendalam, seorang guru bisa berhasil kalau bisa merubah prilaku dan pola pikir anak-anak didiknya dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kalau kita mengajar anak-anak yang pandai akan lebih mudah mengajarnya karena dibawa kemanapun akan lebih mudah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang kemampuannya kurang?.

Seorang guru bisa dikatakan berhasil kalau mampu mengajar anak-anak yang kemampuan otaknya kurang menjadi bisa pandai, itulah yang dikatakan berhasil karena anak didik mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini ? hanya pembacalah yang lebih tahu keadaanya.

Belum lagi pendidikan yang hanya mengandalkan siswa-siswanya yg sudah bekerja, terutama perguruan tinggi swasta, mereka menganggap karena sudah bekerja hanya untuk kenaikan pankat saja, mak pendidikannya kurang begitu diperhatikan terutama masalah kualitasnya.

Sekarang ini ada beberapa perguruan tinggi swasta yang membuka kelas di luar kampus terutama untuk jenjang pendidikan S1, mereka menerima orang–orang yang sudah bekerja di kota tertentu, lalu memanggil dosen dari perguruan tinggi tertentu untuk mengajar didaerahnya, dengan alasan karena yang kuliah sudah pegawai semua, hanya untuk peningkatan karier. Bila semua itu dasarnya seperti itu bagaimana pegawai tersebut mutu/kualitas ilmunya? perlu dipertanyakan dan bagaimana perguruan tinggi tersebut sudah menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh DIKTI. Mereka yang melaksanakan kelas jauh mutunya hanya asal-asalan saja, bila pegawai tersebut menduduki jabatan tertentu ya pola pikirnya asal-asalan saja karena di tilik dari keilmuannya sebenarnya belum mampu. Ini bagaimana dinas terkait, seperti dikti??? tidak pernah menindak perguruan tinggi swasta yang melaksanakan perkualiahan di luar kampus/luar kota.

Pakar di bidang pendidikan di negeri tercinta ini banyak akan tetapi kenapa pendidikan di negeri ini tidak semakin baik? malah semakin kacau? tolonglah para pakar pendidikan, bebruatlah yang nyata, jangan hanya pandai teoridan berkilah saja. Mudah-mudahan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan akan semakin sadar akan pendidikan di negeri ini,sehingga pendidikan ini tidak akan semakin parah.

Mudah-mudahan tulisan dari hati nurani ini, didengar oleh para pakar pendidikan di negeri ini, untuk segeraa merubah sistem yang ada di pendidikan di negeri ini.

[/lang_id][lang_de]

Saat ini pendidikan di indonesia bukannya semakin maju malah semakin kacau menejemen yang ditanganinya, sekolah hanya mengejar popularitas saja dengan bergelar standar tertentu, tapi melupakan jati dirinya, dengan eksistensi pendidikan seutuhnya, bukannya mutu yang dikejar akan tetapi popularitas yang di tonjolkan. Banyak sekali sekolah-sekolah yang menyandang gelar standar tertentu akan tetapi tidak memahami eksistensinya itu hanya supaya kelihatam wah, bila dilihat didalam sekolahnya sendiri manajemennya masih kacau balau, semua yang berkecimpung yang ada di dalamnuya tidak tahu akan standar itu sendiri, karena biasa Kepala sekolah  yang bernafsu supaya sekolah yang di pimpinnya bisa dikenal karena punya standar tertentu.

Sekolah yang mempunyai standar tertentu, kurang memahami eksistensi standar tersebut. Yang lebih parah lagi tidak memahami arti pendidikan sebenarnya. Banyak sekali anak-anak yang terlupakan, terutama anak-anak yang kurang dalam NEM, mereka tak akan bisa masuk dalam sekolah negeri yang lumayan bagus, yang diterima hanya anak-anak yang punya nem tinggi, bila ditinjau secara mendalam, seorang guru bisa berhasil kalau bisa merubah prilaku dan pola pikir anak-anak didiknya dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kalau kita mengajar anak-anak yang pandai akan lebih mudah mengajarnya karena dibawa kemanapun akan lebih mudah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang kemampuannya kurang?.

Seorang guru bisa dikatakan berhasil kalau mampu mengajar anak-anak yang kemampuan otaknya kurang menjadi bisa pandai, itulah yang dikatakan berhasil karena anak didik mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini ? hanya pembacalah yang lebih tahu keadaanya.

Belum lagi pendidikan yang hanya mengandalkan siswa-siswanya yg sudah bekerja, terutama perguruan tinggi swasta, mereka menganggap karena sudah bekerja hanya untuk kenaikan pankat saja, mak pendidikannya kurang begitu diperhatikan terutama masalah kualitasnya.

Sekarang ini ada beberapa perguruan tinggi swasta yang membuka kelas di luar kampus terutama untuk jenjang pendidikan S1, mereka menerima orang–orang yang sudah bekerja di kota tertentu, lalu memanggil dosen dari perguruan tinggi tertentu untuk mengajar didaerahnya, dengan alasan karena yang kuliah sudah pegawai semua, hanya untuk peningkatan karier. Bila semua itu dasarnya seperti itu bagaimana pegawai tersebut mutu/kualitas ilmunya? perlu dipertanyakan dan bagaimana perguruan tinggi tersebut sudah menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh DIKTI. Mereka yang melaksanakan kelas jauh mutunya hanya asal-asalan saja, bila pegawai tersebut menduduki jabatan tertentu ya pola pikirnya asal-asalan saja karena di tilik dari keilmuannya sebenarnya belum mampu. Ini bagaimana dinas terkait, seperti dikti??? tidak pernah menindak perguruan tinggi swasta yang melaksanakan perkualiahan di luar kampus/luar kota.

Pakar di bidang pendidikan di negeri tercinta ini banyak akan tetapi kenapa pendidikan di negeri ini tidak semakin baik? malah semakin kacau? tolonglah para pakar pendidikan, bebruatlah yang nyata, jangan hanya pandai teoridan berkilah saja. Mudah-mudahan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan akan semakin sadar akan pendidikan di negeri ini,sehingga pendidikan ini tidak akan semakin parah.

Mudah-mudahan tulisan dari hati nurani ini, didengar oleh para pakar pendidikan di negeri ini, untuk segeraa merubah sistem yang ada di pendidikan di negeri ini.

[/lang_de][lang_it]

Saat ini pendidikan di indonesia bukannya semakin maju malah semakin kacau menejemen yang ditanganinya, sekolah hanya mengejar popularitas saja dengan bergelar standar tertentu, tapi melupakan jati dirinya, dengan eksistensi pendidikan seutuhnya, bukannya mutu yang dikejar akan tetapi popularitas yang di tonjolkan. Banyak sekali sekolah-sekolah yang menyandang gelar standar tertentu akan tetapi tidak memahami eksistensinya itu hanya supaya kelihatam wah, bila dilihat didalam sekolahnya sendiri manajemennya masih kacau balau, semua yang berkecimpung yang ada di dalamnuya tidak tahu akan standar itu sendiri, karena biasa Kepala sekolah  yang bernafsu supaya sekolah yang di pimpinnya bisa dikenal karena punya standar tertentu.

Sekolah yang mempunyai standar tertentu, kurang memahami eksistensi standar tersebut. Yang lebih parah lagi tidak memahami arti pendidikan sebenarnya. Banyak sekali anak-anak yang terlupakan, terutama anak-anak yang kurang dalam NEM, mereka tak akan bisa masuk dalam sekolah negeri yang lumayan bagus, yang diterima hanya anak-anak yang punya nem tinggi, bila ditinjau secara mendalam, seorang guru bisa berhasil kalau bisa merubah prilaku dan pola pikir anak-anak didiknya dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kalau kita mengajar anak-anak yang pandai akan lebih mudah mengajarnya karena dibawa kemanapun akan lebih mudah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang kemampuannya kurang?.

Seorang guru bisa dikatakan berhasil kalau mampu mengajar anak-anak yang kemampuan otaknya kurang menjadi bisa pandai, itulah yang dikatakan berhasil karena anak didik mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini ? hanya pembacalah yang lebih tahu keadaanya.

Belum lagi pendidikan yang hanya mengandalkan siswa-siswanya yg sudah bekerja, terutama perguruan tinggi swasta, mereka menganggap karena sudah bekerja hanya untuk kenaikan pankat saja, mak pendidikannya kurang begitu diperhatikan terutama masalah kualitasnya.

Sekarang ini ada beberapa perguruan tinggi swasta yang membuka kelas di luar kampus terutama untuk jenjang pendidikan S1, mereka menerima orang–orang yang sudah bekerja di kota tertentu, lalu memanggil dosen dari perguruan tinggi tertentu untuk mengajar didaerahnya, dengan alasan karena yang kuliah sudah pegawai semua, hanya untuk peningkatan karier. Bila semua itu dasarnya seperti itu bagaimana pegawai tersebut mutu/kualitas ilmunya? perlu dipertanyakan dan bagaimana perguruan tinggi tersebut sudah menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh DIKTI. Mereka yang melaksanakan kelas jauh mutunya hanya asal-asalan saja, bila pegawai tersebut menduduki jabatan tertentu ya pola pikirnya asal-asalan saja karena di tilik dari keilmuannya sebenarnya belum mampu. Ini bagaimana dinas terkait, seperti dikti??? tidak pernah menindak perguruan tinggi swasta yang melaksanakan perkualiahan di luar kampus/luar kota.

Pakar di bidang pendidikan di negeri tercinta ini banyak akan tetapi kenapa pendidikan di negeri ini tidak semakin baik? malah semakin kacau? tolonglah para pakar pendidikan, bebruatlah yang nyata, jangan hanya pandai teoridan berkilah saja. Mudah-mudahan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan akan semakin sadar akan pendidikan di negeri ini,sehingga pendidikan ini tidak akan semakin parah.

Mudah-mudahan tulisan dari hati nurani ini, didengar oleh para pakar pendidikan di negeri ini, untuk segeraa merubah sistem yang ada di pendidikan di negeri ini.

[/lang_it][lang_nl]

Saat ini pendidikan di indonesia bukannya semakin maju malah semakin kacau menejemen yang ditanganinya, sekolah hanya mengejar popularitas saja dengan bergelar standar tertentu, tapi melupakan jati dirinya, dengan eksistensi pendidikan seutuhnya, bukannya mutu yang dikejar akan tetapi popularitas yang di tonjolkan. Banyak sekali sekolah-sekolah yang menyandang gelar standar tertentu akan tetapi tidak memahami eksistensinya itu hanya supaya kelihatam wah, bila dilihat didalam sekolahnya sendiri manajemennya masih kacau balau, semua yang berkecimpung yang ada di dalamnuya tidak tahu akan standar itu sendiri, karena biasa Kepala sekolah  yang bernafsu supaya sekolah yang di pimpinnya bisa dikenal karena punya standar tertentu.

Sekolah yang mempunyai standar tertentu, kurang memahami eksistensi standar tersebut. Yang lebih parah lagi tidak memahami arti pendidikan sebenarnya. Banyak sekali anak-anak yang terlupakan, terutama anak-anak yang kurang dalam NEM, mereka tak akan bisa masuk dalam sekolah negeri yang lumayan bagus, yang diterima hanya anak-anak yang punya nem tinggi, bila ditinjau secara mendalam, seorang guru bisa berhasil kalau bisa merubah prilaku dan pola pikir anak-anak didiknya dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kalau kita mengajar anak-anak yang pandai akan lebih mudah mengajarnya karena dibawa kemanapun akan lebih mudah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang kemampuannya kurang?.

Seorang guru bisa dikatakan berhasil kalau mampu mengajar anak-anak yang kemampuan otaknya kurang menjadi bisa pandai, itulah yang dikatakan berhasil karena anak didik mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini ? hanya pembacalah yang lebih tahu keadaanya.

Belum lagi pendidikan yang hanya mengandalkan siswa-siswanya yg sudah bekerja, terutama perguruan tinggi swasta, mereka menganggap karena sudah bekerja hanya untuk kenaikan pankat saja, mak pendidikannya kurang begitu diperhatikan terutama masalah kualitasnya.

Sekarang ini ada beberapa perguruan tinggi swasta yang membuka kelas di luar kampus terutama untuk jenjang pendidikan S1, mereka menerima orang–orang yang sudah bekerja di kota tertentu, lalu memanggil dosen dari perguruan tinggi tertentu untuk mengajar didaerahnya, dengan alasan karena yang kuliah sudah pegawai semua, hanya untuk peningkatan karier. Bila semua itu dasarnya seperti itu bagaimana pegawai tersebut mutu/kualitas ilmunya? perlu dipertanyakan dan bagaimana perguruan tinggi tersebut sudah menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh DIKTI. Mereka yang melaksanakan kelas jauh mutunya hanya asal-asalan saja, bila pegawai tersebut menduduki jabatan tertentu ya pola pikirnya asal-asalan saja karena di tilik dari keilmuannya sebenarnya belum mampu. Ini bagaimana dinas terkait, seperti dikti??? tidak pernah menindak perguruan tinggi swasta yang melaksanakan perkualiahan di luar kampus/luar kota.

Pakar di bidang pendidikan di negeri tercinta ini banyak akan tetapi kenapa pendidikan di negeri ini tidak semakin baik? malah semakin kacau? tolonglah para pakar pendidikan, bebruatlah yang nyata, jangan hanya pandai teoridan berkilah saja. Mudah-mudahan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan akan semakin sadar akan pendidikan di negeri ini,sehingga pendidikan ini tidak akan semakin parah.

Mudah-mudahan tulisan dari hati nurani ini, didengar oleh para pakar pendidikan di negeri ini, untuk segeraa merubah sistem yang ada di pendidikan di negeri ini.

[/lang_nl][lang_en]

Saat ini pendidikan di indonesia bukannya semakin maju malah semakin kacau menejemen yang ditanganinya, sekolah hanya mengejar popularitas saja dengan bergelar standar tertentu, tapi melupakan jati dirinya, dengan eksistensi pendidikan seutuhnya, bukannya mutu yang dikejar akan tetapi popularitas yang di tonjolkan. Banyak sekali sekolah-sekolah yang menyandang gelar standar tertentu akan tetapi tidak memahami eksistensinya itu hanya supaya kelihatam wah, bila dilihat didalam sekolahnya sendiri manajemennya masih kacau balau, semua yang berkecimpung yang ada di dalamnuya tidak tahu akan standar itu sendiri, karena biasa Kepala sekolah  yang bernafsu supaya sekolah yang di pimpinnya bisa dikenal karena punya standar tertentu.

Sekolah yang mempunyai standar tertentu, kurang memahami eksistensi standar tersebut. Yang lebih parah lagi tidak memahami arti pendidikan sebenarnya. Banyak sekali anak-anak yang terlupakan, terutama anak-anak yang kurang dalam NEM, mereka tak akan bisa masuk dalam sekolah negeri yang lumayan bagus, yang diterima hanya anak-anak yang punya nem tinggi, bila ditinjau secara mendalam, seorang guru bisa berhasil kalau bisa merubah prilaku dan pola pikir anak-anak didiknya dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kalau kita mengajar anak-anak yang pandai akan lebih mudah mengajarnya karena dibawa kemanapun akan lebih mudah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang kemampuannya kurang?.

Seorang guru bisa dikatakan berhasil kalau mampu mengajar anak-anak yang kemampuan otaknya kurang menjadi bisa pandai, itulah yang dikatakan berhasil karena anak didik mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan kita saat ini ? hanya pembacalah yang lebih tahu keadaanya.

Belum lagi pendidikan yang hanya mengandalkan siswa-siswanya yg sudah bekerja, terutama perguruan tinggi swasta, mereka menganggap karena sudah bekerja hanya untuk kenaikan pankat saja, mak pendidikannya kurang begitu diperhatikan terutama masalah kualitasnya.

Sekarang ini ada beberapa perguruan tinggi swasta yang membuka kelas di luar kampus terutama untuk jenjang pendidikan S1, mereka menerima orang–orang yang sudah bekerja di kota tertentu, lalu memanggil dosen dari perguruan tinggi tertentu untuk mengajar didaerahnya, dengan alasan karena yang kuliah sudah pegawai semua, hanya untuk peningkatan karier. Bila semua itu dasarnya seperti itu bagaimana pegawai tersebut mutu/kualitas ilmunya? perlu dipertanyakan dan bagaimana perguruan tinggi tersebut sudah menyalahi aturan yang dikeluarkan oleh DIKTI. Mereka yang melaksanakan kelas jauh mutunya hanya asal-asalan saja, bila pegawai tersebut menduduki jabatan tertentu ya pola pikirnya asal-asalan saja karena di tilik dari keilmuannya sebenarnya belum mampu. Ini bagaimana dinas terkait, seperti dikti??? tidak pernah menindak perguruan tinggi swasta yang melaksanakan perkualiahan di luar kampus/luar kota.

Pakar di bidang pendidikan di negeri tercinta ini banyak akan tetapi kenapa pendidikan di negeri ini tidak semakin baik? malah semakin kacau? tolonglah para pakar pendidikan, bebruatlah yang nyata, jangan hanya pandai teoridan berkilah saja. Mudah-mudahan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan akan semakin sadar akan pendidikan di negeri ini,sehingga pendidikan ini tidak akan semakin parah.

Mudah-mudahan tulisan dari hati nurani ini, didengar oleh para pakar pendidikan di negeri ini, untuk segeraa merubah sistem yang ada di pendidikan di negeri ini.

[/lang_en]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: